Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Juni 2017

Sejarah Dalam Sepincuk Sego Liwet


Setiap kota pasti memiliki sajian khas terutama nasi. Nah kalau kita datang ke kota Solo di Jawa Tengah ini, maka kita akan ketemu dengan yang namanya Nasi Liwet. Dalam bahasa Jawa, nasi disebut dengan "Sego" jadi kalau kita di Solo Nasi Liwet lebih dikenal sebagai Sego Liwet.

Disajikan dalam pincuk atau alas makan yang dibuat dari daun pisang, dilekuk pada bagian tengahnya sehingga membentuk cekungan dan disemat dengan lidi pada bagian atasnya agar bentuknya tidak berubah. Karena dimasak dengan menggunakan santan kelapa maka sego liwet ini rasanya sudah gurih walaupun tanpa ditambahkan lauk. Baunya juga harum karena dimasak bersama dengan daun salam dan lengkuas juga sereh.


Ada banyak penjual Sego Liwet yang bisa kita jumpai di warung tenda tepi jalan maupun di pasar tradisional. Mulai dari pagi hingga malam hari. Biasanya Sego liwet diletakkan di dalam bakul atau keranjang bambu besar yang dialasi dengan daun pisang. Ada sayur yang disebut sebagai sambel goreng dengan isian labu yang diparut kasar  yang diletakkan di dalam panci besar. Lauk lainnya adalah opor ayam dan pindang telur. Yang tidak ketinggalan ada areh atau santan kental yang sudah dimasak.


 Di atas meja penjaja Sego Liwet ini biasanya ada juga berbagai lauk dan sayur lainnya. Ada tempe dan tahu bacem juga koyor atau tetelan sapi yang dimasak sedikit pedas. Seperti misalnya ketika saya datang ke Solo dan berkunjung ke Warung Sego Liwet Mbak Giyem Solo Baru, maka saya sempat lapar mata.

Ini karena ada banyak sekali lauk dan sayur yang tersaji di meja. Ada trancam yaitu semacam urap dengan sayuran mentah. Ada Ceker yang dimasak juga tumpang yaitu sayuran yang dimakan bersama saus dari tempe dan masih banyak lagi. Jika datang kemari sebaiknya ketika makan malam, karena Warung tenda ini baru buka mulai pukul 5 sore hingga 12 malam. Kita bisa memilih duduk lesehan atau di bangku yang tersedia di dekat meja lauk.

Kisah tentang Sego Liwet tertulis pada naskah kuno Serat Centthini (1814-1823). Di sini tertulis ,
Liwet anget ulam kang nggajih 
wus lumajeng ngarsi 
sadaya kemebul 

Yang artinya kurang lebih seperti ini :
Nasi liwet beserta lauknya yaitu daging yang berminyak sudah tersedia di hadapan semua dalam keadaan hangat

Kisah ini berkaitan dengan peristiwa di mana Paku Buwono IX (1861-1893) menyediakan nasi liwet bagi para pangrawit (penabuh gamelan) di Kraton. Mereka di suruh makan sebelum pulang agar istri mereka di rumah nantinya tidak repot-repot menyiapkan makanan. Saat itu Pulau Jawa diguncang Gempa Bumi hingga Nasi Liwet dihadirkan dalam sebaris doa pada kalimat di atas.


Nasi Liwet rutin disajikan dalam kenduri yang dilaksanakan oleh Gusti Pangeran atau Sang Raja kala itu di Kraton. Kenduri itu dilaksanakan dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw. Nasi Liwet dihadirkan sebagai pengganti Nasi Samin. Konon dulu orang Jawa tidak bisa memasak Nasi Samin maka akhirnya terciptalah sebuah hidangan yang mirip nasi Samin yaitu Nasi Liwet.

Tentu saja dengan bumbu rempah yang berbeda dengan Nasi Samin. Nasi Liwet dimasak dengan menggunakan santan kelapa dan rempah ala Jawa seperti lengkuas dan juga daun salam agar harum. Sedangkan Nasi Samin dimasak dengan menggunakan minyak samin dan beberapa rempah khas Timur Tengah.


Rabu, 10 Februari 2016

Jalan-jalan ke Bukit Siguntang


Beberapa waktu yang lalu aku sedang menyusun sebuah tulisan sastra Melayu. Salah satu bahannya adalah buku "Hang Tuah" yang susah sekali mencari pustakanya. Namun akhirnya aku mendapatkan juga sebuah buku yang judulnya adalah "Hang Tuah".

Tapi ketika di baca di dalamnya hanya sedikit sekali cerita tentang kehidupan Hang Tuah. Cerita besarnya justru tentang sebuah negeri yang dipimpin oleh seorang Raja yang merupakan putra dari Raja Langit. Negeri ini berada di Bukit Siguntang. 

Sejak saat itu aku berniat untuk pergi ke sana. Melihat secara langsung bekas-bekas kejayaan Negeri yang tertua di tanah Melayu ini. Namun sayangnya beberapa kali aku ke Palembang, tapi belum sekalipun menginjakkan kaki di sana. 

Pertama karena kedatanganku ke Palembang memang untuk urusan pekerjaan, jadi waktu untuk jalan-jalan sangat terbatas. Kedua karena Bukit Sgutang ini memang tidak setenar "Jembatan Ampera" maupun "Benteng Kuto Besak" juga "Empek-empek". 

Jadi tidak heran kalau ketika datang ke Palembang maka aku hanya sempat menikmati indahnya Jembatan Ampera dan sungai Musi di malam hari. Juga berfoto di Benteng Kuto Besak sebentar. Selebihnya adalah memuaskan perut dengan wisata kuliner empek. 

Bukit Siguntang ini berada di kota Palembang tepatnya di kelurahan Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat I Palembang. Bukit yang dianggap sakral ini berada pada ketinggian 29-30 meter di atas permukaan laut. Salah satu alasan orang berkunjung ke Bukit Siguntang adalah untuk berziarah ke makam bangsawan kerajaan di Palembang. 



Makam raja-raja ini berada di dalam rumah-rumah kecil dan dianggap sakral. Beberapa raja-raja Melayu - Sriwijaya yang dimakamkan di Bukit Siguntang ini diantaranya adalah : 

1. Raja Segentar Alam 
Beliau bernama asli Iskandar Zulkarnain Alamsyah. Seorang bangsawan dari kerajaan Mataram yang berhasil menaklukan hampir seluruh kerajaan di Pulau Sumatera bahkan hingga Johor dan Malaka di Malaysia. 

2. Putri Kembang Dadar 
Karena kecantikannya dikenal juga sebagai Putri Bunga Melur yang dianggap berasal dari kahyangan. Putri Kembang Dadar bisa diartikan sebagai Putri yang dimuliakan. 

3. Putri Rambut Selako. 
Konon kabarnya sang putri berasal dari keraton Yogyakarta adan bernama asli Damar Kencana Wungsu.  

4. Pangeran Radja Batu Api 
Beliau dikenal sebagai pengelana yang menyiarkan agama islam di tanah Melayu. 

5. Panglima Bagus Kuning
Dia adalah pengawal Raja Segentar Alam dari Mataram

6. Panglima Bagus Karang 
Teman Panglima Bagus Kuning yang juga merupakan pengawal Raja Segentar Alam dari Mataram. 

7. Panglima Tuan Djundjungan 
Seorang ulama dari Arab yang menyebarkan agama Islam di tanah Melayu.  

Konon nama Bukit Siguntang ini tertulis dalam kitab-kitab Sejarah Raja-raja Melayu. Dalam kitab yang ditulis di Perlis, Malaysia disebutkan tentang sebuah daerah bernama Palembang yang berada di Muara Sungai Tatang. Di bagian hulu Sungai Tatang ini terdapat Sungai Melayu yang di dekatnya menjulang bukit bernama Bukit Siguntang.

Sejak abad ke-7 Sriwijaya sudah menjadi tempat beribadah penganut Budha. Jadi kawasan Bukit Siguntang kini bisa menjadi destinasi wisata sejarah untuk melihat kejayaan Sriwijaya dan perkembangan agama Budha di Nusantara.   

Bukti perkembangan agama Budha di Sriwijaya ini bisa dilihat dari Archa Buddha yang tingginya mencapai 2,77 meter. Arca ini terbuat dari batu granit. Di Bukit Siguntang ini kita juga bisa melihat pecahan tembikar dan keramik yang berasal dari Dinasti Tang. 

Dari kawasan wisata sejarah Bukit Siguntang ini kita juga bisa menemukan menara pandang yang berada di tengah-tengah Bukit Siguntang. Selain itu ada juga relief yang bercerita tentang kerajaan Sriwijaya. 




Senin, 09 Maret 2015

Mengenal Gedung Gas Negara Bandung


Jika menyusuri Jalan Braga, maka di bagian kanan Jalan, tepatnya sesudah melewati toko roti Sumber Hidangan, maka kita akan menemui sebuah Gedung tua bertuliskan Gas Negara di atasnya. Gedung ini merupakan salah satu gedung Cagar Budaya di Bandung. 

Di bagian depan gedung terdapat marmer persegi empat yang ditanam di dinding gedung. Pada marmer tersebut bertuliskan “ Gedung gas Negara”. Ada juga penjelasan bahwa gedung ini dibangun pada tahun 1930 karya R.L.A. Schoemaker. Gedung ini dulu berfungsi sebagai kantor pemasaran Pabrik gas. Bangunan ini dijadikan sebagai Cagar Budaya dengan perda Kota Bandung no.19/2009. 

Dulu gedung ini memang digunakan sebagai kantor perusahaan N.V Nederlandsch-Indische Gasmaatschappij (NIGM). Hanya saja gedung ini berfungsi sebagai kantor administrasi. Sedangkan pabrik gasnya sendiri berada di daerah Kiaracondong, Bandung dan mulai beroperasi sejak 17 Februari 1921. 

Saat itu penggunaan gas di Bandung ditujukan bagi dapur-dapur hotel, pabrik roti, bahan bakar penghangat di penginapan, barak maupun rumah sakit. Gas di Bandung dijual dengan cara disalurkan melalui pipa sambungan gas. Hingga tahun 1930 telah ada 3.750 sambungan gas di Bandung. 

Bangunan yang berada di Jalan Braga 33 tersebut dibeli oleh NIGM pada bulan September 1928. Sebelumnya bangunan ini digunakan sebagai sekretariat Bandoeng Vooruit dan kantor N.V.Becker & Co. Setelah kemerdekaan Indonesia, perusahaan gas NIGM berpindah tangan ke Perusahaan gas Negara hingga saat ini. Kini bangunan gedung Gas Negara ini dalam kondisi kosong.

Minggu, 08 Maret 2015

Sejarah Pendirian Museum Konferensi Asia Afrika


Konferensi Asia Afrika yang berlangsung pada tanggal 18-24 April 1955 dianggap sebagai peristiwa yang sangat bersejarah bagi Indonesia. Oleh karena itu segala hal yang berkaitan dan berpengaruh pada KAA seharusnya diabadikan dalam sebuah museum agar bisa dijadikan isnpirasi bagi generasi penerus bangsa Indonesia. 


Gagasan pendirian Museum Konferensi Asia Afrika ini diungkapkan oleh Menteri luar negeri Republik Indonesia yang menjabat pada tahun 1978-1988 yaitu Prof.Dr. Mochtar Kusumaatmaja, S.H, LL.M. Beliau menyampaikan gagasan ini pada forum Asia Afrika tahun 1980. Gagasan ini kemudian diwujudkan oleh Joop Ave yang saat itu menjadi Ketua Harian Panitia 

Peringatan 25 tahun KAA. Hingga akhirnya Museum Asia Afrika diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 24 April 1980 pada puncak acara Peringatan 25 tahun Konferensi Asia Afrika. 

Kedudukan Museum Konferensi Asia Afrika ini dialihkan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Ke Departemen Luar Negeri pada tanggal 18 Juni 1986. Hingga saat ini UPT Museum Konferensi Asia Afrika berada di dalam koordinasi Direktorat Diplomasi Publik Kementrian Luar Negeri. 

Pada 22-24 April tahun 2005 dilakukan penataan kembali Museum Konferensi Asia Afrika. Kegiatan ini bersamaan dengan peringatan 50 tahun Konferensi Asia Afrika 1955. Penataan ini atas prakarsa Menteri Luar Negeri Republik Indoneisa yaitu Dr.N. Hassan Wirajuda.

Sabtu, 07 Maret 2015

Museum Asia Afrika

Museum Asia Afrika berada di Gedung Merdeka jalan Asia Afrika No. 65 Bandung. Tidak ada biaya masuk alias gratis untuk bisa melihat koleksi museum yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 24 April 1980 ini. Di sini kita bisa melihat koleksi benda-benda yang digunakan pada saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Afrika tahun 1955, juga foto-foto serta diorama. 

Museum ini buka dari hari Selasa hingga Mingu. Jadi kalau hari Senin museum ini tuutp. Pada hari Selasa hingga Kamis museum Asia Afrika ini buka sejak pukul 08.00 hingga pukul 16.00. Hari Jum’at Museum ini hanya buka pada pukul 14.00 hingga 16.00. Jika hari Sabtu – Minggu Museum Asia Afrika buka pada pukul 09.00 hingga 16.00. 
Jika memerlukan jasa pemandu maka di Museum Asia Afrika ini juga disediakan bagi pengunjung. Baik itu pengunjung umum ataupun pengunjung resmi pemerintahan. Untuk jasa pemandu ini gratis, karena di bagian depan museum ditulis “mohon tidak memberikan tips kepada petugas” atau “No Tips Please”. 

Begitu masuk ke dalam Museum Asia Afrika, kita diminta untuk mengisi buku tamu. Selanjutnya kita akan dipersilahkan melihat-lihat ruang pamer yang berisi koleksi benda-benda serta foto-foto dookumentasi peristiwa . Benda dan foto yang ada di sini bukan saja akan mengingatkan kita pada Konferensi Asia Afrika 1955 tapi juga Pertemuan tugu, Konferensi Kolombo, Konferensi Bogor. 

Ada banyak foto di ruang pamer Museum Asia Afrika yang bisa memberikan gambaran kepada kita tentang peristiwa yang metarbelakangi lahirnya Konferensi Asia Afrika. Juga dampak dari Konferensi Asia Afrika bagi dunia internasional. Selain itu kita juga bisa melihat foto gedung Merdeka dari masa ke masa. Profil negara-negara peserta Konferensi Asia Afrika juga bisa kita lihat dalam bentuk Multimedia di museum ini. 

Begitu masuk kita akan melihat diorama yang menggambarkan situasi pembukaan Konferensi Asia Afrika 1955. Di museum ini juga ada perpustakaan yang berisi buku-buku sejarah, sosial, politik serta budaya negara-negara Asia dan Afrika juga dokumen-dokumen KAA. 

Perpustakaan di museum ini berdiri pada tahun 1985 dengan prakarsa Abdullah Kamil yang saat itu merupakan Kepala Perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia di London. Selain perpustakaan, di tahun yang sama juga dibuat ruang audio visual untuk menayangkan film-film dokumenter. Film yang ada di ruangan ini tentang kondisi dunia hingga tahun 1950-an, Kebudayaan negara-negara Asia Afrika serta Konferensi Asia Afrika dan konferensi-konferensi kelanjutannya. 

Sebelum keluar dari Museum Asia Afrika ini kita akna melewati aula tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika. Di sini masih tertata rapi kursi-kursi kayu yang dipakai dalam KAA dulu. Ada juga bendera negara-negara peserta KAA. Di bagian depan aula ini kita bisa melihat Gong Perdamaian Asia-Afrika. Di sampingnya terdapat prasasti yang bertuliskan nama-nama anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). 

Untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, Museum Konferensi Asia Afrika juga seringkali mengadakan pameran yang berkaitan dnegan politik luar negeri serta sejarah diplomasi Indonesia. Ada juga komunitas yang dibentuk serta didukung oleh Museum Konferensia Asia Afrika. Kegiatan komunitas ini diantaranya diskusi buku, diskusi film serta festival budaya.

Jumat, 06 Maret 2015

Gedung merdeka


Gedung Merdeka yang berada di Jalan Asia Afrika ini juga dikenal sebagai Museum Konferensi Aia Afrika. Gedung ini memang dulunya dipakai sebagai tempat berlangsungnya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Afrika yang diselenggarakan di Bandung pada tahun 1955. Di dalam gedung Merdeka ini dipamerkan berbagai benda-benda koleksi maupun foto-foto yang berkaitan dengan Konferensi Asia Afrika 1955. 

Bangunan Gedung Merdeka ini hasil rancangan dua arsitek sekaligus guru besar Technische Hoogescholl te Bandoeng (Sekarang ITB). Kedua arsitek tersebut adalah Van Galen Last serta C.P. Wolf Schoemaker. Gedung Merdeka ini dibangun dengan nuansa Art Deco. 

Lantai Gedung Merdeka dibuat darii marmer Italia. Ada ruangan yang digunakan sebagai tempat minum-minum dan bersantai yang terbuat dari kayu cikenhout. Di dalam gedung ini dihiasi pula dengan lampu hias kristal yang sekaligus digunakan sebagai penerangan. 

Gedung Merdeka menempati area seluas 7.500 m2 dan dibangun pada tahun 1895. Pada awal dibangun, gedung ini bernama Societeit Concordia. Gedung ini digunakan sebagai tempat bersosialisasi orang-orang Belanda yang tinggal di Bandung dan sekitarnya. Mereka adalah pemilik kebun, pengusaha, perwira juga pembesar kota Bandung. Sehingga pada tahun 1921 gedung ini bernama Concordia. 

Tahun 1926 gedung ini di renovasi seluruhnya oleh Wolff Schoemacher, Aalbers serta Van Gallen. Tahun 1940 dilakukan renvasi pada sayap kiri dengan gaya arsitektur International Style. Renovasi kali ini hasil rancangan A.F. Aalbers dengan fungsi gedung sebagai tempat rekreasi. 

Di masa pendudukan Jepang, gedung ini diberi nama Dai Toa Kikan. Gedung ini digunakan sebagai pusat kebudayaan Jepang. Di sayap kiri bangunan dijadikan sebagai tempat minum yang diberi nama Yamato. Sayangnya tempat ini terbakar pada tahun 1944. 

Pada tanggal 17 Agustus 1945, saat proklamasi kemerdekaan Indonesia, gedung ini digunakan sebagai markas pemuda Indonesia. Saat itu tentara jepang masih belum mau menyerahkan kekuasaannya kepada Indoensia. Pada masa pemerintahan Haminte Bandung, Negara Pasundan dan Recomba Jawa Barat gedung ini digunakan sebagai tempat pertemuan. Ini berlangsung pada tahun 1946-1950. Fungsi gedung ini juga sebagai tempat rereasi sehinggi disini ada restoran dan juga diselenggarakan pertunjukan kesenian. 

Menjelang diadakannya KTT KAA, tepatnya pada awal tahun 1955 gedung ini mengalami pemugaran. Tanggal 7 April 1955 Presiden Soekarno mengubah nama gedung ini menjadi Gedung Merdeka. Pemugaran ini bertujuan mempersiapkan gedung ini sebagai tempat konferensi bertaraf Internasional. Pelaksanaan pemugaran ini dilakukan oleh Jawatan Pekerjaan Umum Propinsi Jawa Barat yang dipimpin oleh Ir. R. Srigati Santoso. 

Tahun 1955 Gedung Merdeka dijadikan sebagai Gedung Konstituante. Konstituante bertugas menetapkan dasar negara dan undang-undang dasar negara. Namun sayangnya Konstituante ini dianggap gagal dalam menjalankan tugasnya. Sehingga konstituante dibubarkan melalui Dekrit Presiden pada tanggal 5 Juli 1959. Di tahun 1959, gedung ini juga pernah dijadikan sebagai tempat kegiatan Badan Perancang Nasional (Bapenas) 

Pada tahun 1960 dibentuk Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS). PAda tahun yang sama gedug Merdeka ini digunakan sebagai Gedung MPRS. Kegiatan MPRS ini kemudian dilaihkan ke Jakarta pada tahun 1971. Tahun 1965 di Gedung Merdeka berlangsung Konferensi Islam Asia Afrika. 

Ketika meletus pemberontakan G-30 S PKI, gedung merdeka ini sempat dikuasai oleh militer. Gedung ini digunakan sebagai tempat tahanan politik G30S. Di bulan Juli 1966 Gedung Merdeka diserahkan pemerintah pusat kepada Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Barat . Gedung Merdeka ini kebali digunakan sebagai tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika ke-25 pada bulan Maret 1980. Setelah itu pada tahun 1980 seluruh gedung Merdeka ditetapkan sebagai Museum Asia Afrika.

Wajah Masjid Raya Bandung Dari Waktu ke Waktu


Sejak berdiri hingga saat ini, Masjid Raya Bandung sudah mengalami perombakan sebanyak 14 kali. Dari yang awalnya majid ini dibangun dengan bentuk rumah tradisional Sunda, kini sudah menjadi bangunan dengan arsitektur modern. 

1812. 
Pada awal berdiri, bangunan masjid Agung Bandung merupakan rumah panggung. Tiangnya dari kayu dengan dinding anyaman bambu dan beratap rumbia. Ada kolam air besar sebagai tempat mengambil air wudhlu. Kolam air sangat berjasa dalam memadamkan kebakaran yang terjadi di Alun-alun Bandung pada tahun 1825. 

1826 
Dilakukan perombakan dengan mengganti bilik bambu. Atap tidak lagi menggunakan rumbia tapi diganti atap dengan bahan kayu. 

1850 
Atas instruksi Bupati R.A Wiranatakusumah IV dilakukan perombakan dan perluasan bangunan masjid. Perombakan ini dilakukan bersamaan dengan dibangunnya Jalan Raya Pos (Groote Postweg). Atas masjid diganti dengan genteng dan dinding menjadi tembok batu bata. Atap berbentuk limas, bersusun tiga menjulang sehingga masyarakat mengenalnya dnegan sebutan bale nyungcung. Bangunan masjid ini diabadikan dalam bentuk lukisan oleh pelukis Inggris yaitu W Spreat di tahun 1852. 

1875 
Ditahun ini perubahan terlihat dengan penambahan pondasi juga tembok yang mengelilingi masjid. 

1900 
Bagian dalam masjid dilengkapi dengan mihrab dan teras yang berada di kiri dan kanan masjid. Teras ini dikenal sebagai pawestren. Penambahan fasilitas ini untuk mendukung kegiatan keagamaan yang dilakukan di masjid Agung ini seperti pengajian serta peringatan hari besar Islam. 

1930 
Dilakukan perombakan yang menjadikan pendopo sebagai teras masjid. Pembangunan juga dilakukan dengan menambahkan dua menara dengan atap yang bentuknya sama dengan atap masjid yaitu Nyungcung. 

1955 
Menjelang Konferensi Asia Afrika yang berlangsung pada tahun 1955 Presiden Soekarno merancang bangunan baru Masjid Agung. Kubah diganti menjadi bentuk segi empat bergaya timur tengah dengan ujungnya meruncing menyerupai bawang. Menara di kiir dan kanan masjid juga pawestren dan teras dibongkar. 

1970. 
Kubah berbentuk bawang diganti dengan kubah bukan berbentuk bawang. 

1973 
Lantai masjid diperluas dan dibuat tingkat. Ada tempat wudlu di basement. Dibangun menara baru di depan masjid dengan ornament logam bulat seperti bawang. Atap kubah masjid berbentuk joglo. 

2001 
Dilakukan peletakan batu pertama pembangunan masjid agung Bandung pada tanggal 25 Pebruari 2001. Masjid Agung Bandung dan Alun-alun menjadi satu kesatuan. Atap limas diganti dengan kubah besar setengah bola dengan diameter 30 meter. Di depan masjid dibangun menara kembar 19 lantai.

Selasa, 24 Februari 2015

Cerita Dibalik Alun-alun Bandung


Dahulu yang namanya Alun-alun adalah ruang kosong yang dikelilingi oleh pohon-pohon besar untuk berteduh. Alun-alun digunakan sebagai tempat berinteraksi antara penguasa dengan rakyatnya. Seperti halnya Alun-alun Bandung yang dulu berada di dekat pendopo Kadipaten. Kini pendopo Kadipaten Bandung yang berada di sebelah Selatan alun-alun Bandung ini digunakan sebagai rumah dinas Wali kota Bandung. 

Di bagian Barat alun-alun Bandung terdapat Masjid Raya atau Masjid Agung Bandung. Ada jalan di sebelah Timur yang diberi nama Jalan Alun-Alun Timur. Di sebelah Utara berdiri kantor pos yang kini masih digunakan sebagai Kantor Pos Besar Bandung. Itu sebabnya jalan raya yang berada di sebelah alun-alun Bandung dinamakan Grote Postweg atau Jalan Raya Pos. Kini kita mengenal Jalan Raya Pos sebagai Jalan Asia Afrika. 

Dulu ada sepasang pohon beringin besar yang tengah-tengah alun-alun Bandung. Pohon beringin memang merupakan ciri khas dari setiap alun-alun di Nusantara. Ini karena pohon beringin merupakan lambang perlindungan bagi masyarakat. 

Di Bandung, sebuah pohon beringin yang ditanam pada tanggal 8 September 1898 dinamakan Wilhelmina boom. Pemberian nama ini untuk memperingati pelantikan Ratu Belanda yaitu Ratu Wilhelmina. Ratu Belanda yang bernama lengkap Wilhelmina Helena Pauline Maria ini memgang tahta kerajaan Belanda selama kurang lebih 50 tahun tepatnya sejak tahun 1898 hingga 1948. 

Sedangkan satu pohon beringin yang lainnya ditanam untuk memperingati kelahiran Ratu Juliana sehingga diberi nama Juliana boom. Pohon ini ditanam pada tahun 1909. Pada tahun 1948 Ratu Juliana Louise Emma Marie Wilhelmina memgang tahta kerajaan Belanda menggantikan ibunya hingga tahun 1980. 

Pohon beringin ini tumbang menjelang pendudukan Jepang di Indonesia. Tumbangnya pohon beringin ini pun dikaitkan dengan jatuhnya Belanda di Indonesia. Di masa pendudukan Jepang, ada banyak pedagang Jepang yang membuka toko di sekitar alun-alun. Dagangan yang diperjual belikan di toko-toko tersebut pun harganya murah. Saat itu daerah sekitar alun-alun pun terlihat seperti kota Jepang. 

Pada tanggal 4 Mei 1947, alun-alun Bandung digunakan sebagai tempat untuk memproklamirkan Negara Pasundan versi Partai Rakyat Pasoendan (PRP). Negara Pasundan merupakan negara bonek buatan Belanda yang bertujuan untuk memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Senin, 23 Februari 2015

Gedung Jiwa Sraya Bandung


Gedung ini dibangun pada tahun 1914 dengan gaya arsitektur Indo Europeesche Stijl. Luas bangunan dari gedung ini adalah 1.996 m2 diatas lahan 3.289 m2. Dulu gedung ini dibangun untuk kantor Nederlandsche Indische Levensverzekering en Lijfrente Maatschappij (NILLMIJ). 

NILLMIJ adalah sebuah perusahaan asuransi jiwa paling tua di Indonesia. Perusahaan ini didirikan di Batavia dengan akte notaris William Hendry Herklots No 185. Akte notaris ini dibuat pada tanggal 31 Desember 1859. 

Pada masa perang kemerdekaan, gedung ini digunakan sebagai markas Resimen 8 Divisi III Priangan yang awalnya dipimpin oleh Kolonel Arudji Kartawinata. Resimen 8 ini merupakan pasukan yang ikut berperan dalam peristiwa Bandung Lautan Api pada tanggal 26 Maret 1946. Kini kita bisa melihat gedung ini digunakan sebagai kantor Asuransi Jiwasraya.

Minggu, 22 Februari 2015

Gedung Kantor Pos Besar Bandung

Sejak pertama kali dibangun pada tahun 1863 gedung ini memang digunakan sebagai kantor pos. Pada jaman Belanda dulu namanya “ Posten Telegraf Kantoor”. Bangunan bergaya Geometric Art Deco ini adalah hasil rancangan arsitek Belnada J.Van Gendt. 



Pada tahun 1928 hingga 1931 gedung ini direnovasi secara besar-besaran. Hingga gedung yang berada pada tanah seluas 6.006 m2 ini memiliki luas 4.846 m2. Dalam design bangunnan ini digunakan perpaduan atap bangunan tropis. 

Sayangnya gedung ini sempat terkena ledakan bom pada tahun 1949 ketika perang kemerdekaan. Keruskaan terjadi pada bagian interior yang terbakar. Namun bentuk keseluruhan dari gedung pos ini masih utuh termasuk-ornamen-ornamen khas Belanda. 

Gedung Kantor Pos Bandung ini berada di Jalan Asia Afrika no.49 tepatnya di sebrang Masjid Raya Bandung. Di bagian depan gedung ini kita bisa menjumpai patung Universal Postal Union atau Uni Postale Universaile (UPU).

Hotel Swarha Bandung


Dulu ketika Konferensi Asia Afrika diadakan di Bandung pada tahun 1955, hotel Swarha ini merupakan tempat menginap para wartawan yang meliput acara tersebut. Para wartawan itu bukan saja datang dari Jakarta tapi juga dari luar negeri. Diantaranya ada wartawan senior H.Rosihan Anwar juga Mochtar Lubis. Ada juga wartawan dari Amerika Serikat , Cina dan negara-negara di Eropa seperti Perancis. 

Hotel yang dekat dengan gedung Merdeka, tempat dilaksanakannya Konferensi Asia Afrika ini menyebabkan para wartawan ini bisa dengan mudah pulang dan pergi. Dari hotel ini pula para wartawan ini menyebarkan berita tentang Konferensi Asia Afrika ke berbagai penjuru dunia. Efeknya adalah negara-negara yang masih terjajah segera menyadari betapa pentingnya kemerdekaan bagi mereka. 

Sayangnya bangunan hotel Swarha yang berada tepat di samping Masjid Agung Bandung ini sekarang sudah tidak terawat lagi. Bahkan kondisi bangunan yang dibiarkan kosong ini kini sudah lapuk dan bisa runtuh sewaktu-waktu. Padahal dulu lantai satu gedung ini pernah dijadikan sebagai toko tekstil sedangkan lantai dua hingga lantai empat bangunan ini digunakan sebagai hotel.

Gedung Bank Mandiri Bandung


Gedung Bank Mandiri ini berada di seberang alun-alun Bandung. Tepatnya di bagian sudut jalan persimpangan antara jalan Asia Afrika dan Jalan Cikapundung Barat. Gedung yang sekarang digunakan sebagai Regional Office Operation Bank Mandiri ini terlihat sangat kontras berdampingan dengan gedung Bank BRI yang merupakan bangunan modern. 

Di bagian atas bangunan ini tertulis “Nedhandel NV”. Gedung yang beralamat di Jalan Asia Afrika no.61 ini dibangun pada tahun 1912. Bangunan yang bergaya Neo Klasik ini merupakan hasil rancangan arsitek hulswit Vermen dan Edward Cuypers. 

Ketika pertama kali dibangun gedung ini digunakan sebagai kantor Nederlandsche Handel Maatchappij NV. Pada tahun 1960 perusahaan ini diambil alih oleh pemerintah Indonesia yang kemudian menjadi Bank Expor-Impor (Exim). Sejak tahun 1998, Bank Exim bersama beberapa Bank pemerintah lainnya bergabung menjadi Bank Mandiri.

Jumat, 20 Februari 2015

Menyusuri Jalan Asia Afrika


Berjalan sepanjang jalan Asia Afrika Bandung bagaikan menyusuri sejarah Bandung tempo dulu. Di sini ada banyak gedung cagar budaya yang dibangun pada masa pemerintahan Belanda. Di jalan Asia Afrika inilah kita bisa menikmati Paris Van Java yang sesungguhnya. 

Dulu pada awal berdirinya kota Bandung, jalan Asia Afrika bernama jalan Raya Pos (Postweg). Tepatnya tahun 1810 Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels menancapkan tongkat di sebuah tempat yang kini dikenal sebagai Titik 0 Bandung. 

Hal ini terjadi setelah Daendels berhasil membujuk Bupati Bandung ke-6 yaitu Raden Wiranatakusumah II untuk memindahkan ibukot Bandung ke lokasi yang sekarang dikenal dengan Alun-alun Bandung. Sebelumnya ibukota Bandung berada di Karapyak yang berjarak sekitar 16 km Selatan Bandung. 

Di jalan Asia Afrika ini kita bisa menikmati keindahan gedung-gedung lama juga alun-alun Bandung serta masjid Agung Bandung. Kita juga bisa mampir ke Museum Asia Afrika yang berada di dalam gedung Merdeka. Dari sini kita bisa meneruskan perjalanan menuju Jalan Braga. 

Ada beberapa gedung bersejarah lainnya di Jalan Asia afrika ini yang hingga kini masih terawat dan digunakan dengan baik. Diantaranya adalah Hotel Savoy Homan dan Hotel Preanger. Apotek Kimia Farma serta Gedung Pikiran Rakyat yang berada tepat di depan Hotel Savoy Homan. Di sebelah Hotel Savoy Homan kita juga bisa melihat bangunan bekas supermarket pertama di Bandung yang kini dipakai sebagai kantor sebuah bank swasta.

Foto-foto lain tentang di jalan Asia Afrika Bandung bisa dilihat di sini : 

Rabu, 18 Februari 2015

Sejarah Kopi Aroma Bandung


Pabrik kopi Aroma yang berada di Jalan Banceuy 51 Bandung ini didirikan oleh Tan Houw Sian pada tahun 1930. Sebelumnya Tan Houw Sian bekerja di perusahaan kopi milik Belanda sejak tahun 1920 hingga tahun 1930. Ketika bekerja itulah Tan Houw Sian mempelajari ilmu tentang kopi sekaligus menjadi pengusaha. Hingga akhirnya pada tahun 1930 ia memutuskan berhenti menjadi karyawan dan mendirikan usaha kopi kecil-kecilan yang diberi nama Aroma.

Saat ini pabrik sekaligus toko kopi Aroma ini dikelola oleh generasi kedua sekaligus pewaris tunggal yang bernama Widyapratama. Beda usia yang jauh antara ayah dan anak ini mencapai 53 tahun. Perbedaan usia inilah yang kemudian membuat toko kopi ini nyaris tumbang. Toko kopi Aroma ini sempat mengalami masa stagnasi, hidup tidak matipun tidak pada tahun 1966 hingga 1970. 

Hingga akhirnya Widyapratama yang lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Padjajaran Bandung ini belajar ilmu kopi ke Singapura dan membangun kembali toko kopi Aroma. Kini ada dua anak dari tiga anak Widyapratama yang membantu meneruskan usaha kopi Aroma ini.

Selasa, 17 Februari 2015

Kopi Aroma, Kopi Legendaris Bandung


Di pojokan jalan Banceuy, kita akan bertemu dengan sebuah bangunan lama yang diatasnya bertuliskan “ Aroma - Paberik kopi”. Tempat yang lokasinya di hoek ini juga bisa kita tempuh dengan berjalan kaki selama kurang lebih 5 menit dari jalan yang tepat berada di depan Pasar Baru. Yang ada di Jalan Banceuy No.51 ini adalah bangunan Pabrik sekaligus toko Kopi Aroma. 

Pabrik dan Toko kopi Aroma ini sudah ada sejak tahun 1930. Jadi kalau kita ingin membeli oleh-oleh dari Bandung yang berbeda, maka kita bisa datang ke tempat ini. Kopi Aroma Bandung ini diolah dengan cara tradisional dan menggunakan mesin yang digunakan sejak pabrik kopi ini berdiri. Toko kopi Aroma buka sejak jam 9 pagi hingga jam 14.30 siang hari. 

Di bawah tulisan Aroma ada pintu yang tertutup rapat. Ini karena bangunan ini memang digunakan sebagai pabrik pengolahan kopi dan penyimpanan kopi. Jika ingin membeli kopi, maka kita bisa lewat pintu terbuka yang ada di bagian hoek dari bangunan ini. Dari pintu kecil ini kita akan melihat antrian para pembeli kopi. 

Dari pintu ini juga kita bisa melihat langsung para karyawan dan pemilik toko kopi ini dengan cekatan membungkus kopi serta melayani para pembeli. Kopi Aroma ini dijual dalam kemasan ¼ kg atau 250 gram. Ada 3 macam kopi yang bisa kita pilih di sini yaitu kopi Arabka, Robusta atau campuran Arabika dan Robusta. Hanya saja kita hanya diperbolehkan membeli maksimal 5 kg saja dalam sekali transaksi. 


Pak Widya si pemilik kopi Aroma menjelaskan, pembatasan jumlah pembelian ini agar banyak orang yang bisa membeli kopi di sini. Pengolahan kopi Aroma sendiri hanya terbatas, sedangkan peminatnya banyak. Jadi jumlah pembelian harus dibatasi. Toko kopi Aroma ini juga tidak membuka cabang di manapun.


Sejarah Ronde


Cikal bakal Ronde adalah makanan tradisional Cina yang dikenal dengan nama Tangyuan. Makanan ini terbuat dari tepung ketan yang dicampur dengan air kemudian dibentuk bulat-bulat dan direbus. Ukuran Tangyuan ada yang kecil dan ada yang besar. Di dalamnya ada yang diberi isi dan ada yang tidak. Tangyuan ini dimakan bersama dengan kuah manis. 

Sebelumnya Tangyuan dikenal dengan nama Yuanxiao. Ini adalah nama seorang dayang kerajaan di masa Dinasti Han. Saat itu si Dayang sangat rindu pada keluarganya tapi ia tidak diijinkan meninggalkan istana. 

Hingga akhirnya seorang menteri istana menyarankan untuk Yuanxiao membuat makanan terbaik yang bisa ia buat untuk dipersembahkan kepada Dewa pada tanggal 15 di bulan imllek. Ternyata Kaisar menyukai hidangan Yuanxiao dan mengijinkan dayang itu menemui orang tuanya. Sejak saat iu diadakan Festival Yuanxiao setiap tanggal 15 di bulan pertama tahun baru Cina (Imlek) 

Pada masa pemerintahan Yuan Shikai (1912-1916), nama Yuangxiao diganti menjadi Tangyuan yang berarti bola bulat dalam sup. Sejak Dinasti Sung Tangyuan telah menjadi makanan yang populer di Cina. Ukuran Tangyuan yang ada di Cina bagian Selatan biasanya lebih besar dari Tangyuan dari Cina bagian Utara. 

Tangyuan yang diberi isi manis yang disajikan dengan kuah jahe kemudian dikenal dengan nama Ronde. Ronde biasanya dinikmati oleh keluarga Tionghoa menjelang perayaan Imlek. Bahkan ronde juga digunakan dalam ritual sembahyang . 

Seperti terlihat adanya beberapa keluarga Tionghoa yang melaksanakan sembahyang ronde. Bagi masyarakat Tionghoa, ronde identik dengan kebersamaan keluarga seperti halnya teh bagi masyarakat Indonesia pada umumnya. 

Di Indonesia Ronde bukan saja dimakan ketika festival saja, tapi sudah menjadi hidangan yang bisa dimakan setiap hari. Kuah Ronde yang terbuat dari jahe bisa dimanfaatkan sebagai penghangat tubuh. Kuah ronde sendiri terbuat dari campuran jahe dan gula. 

Sari jahe inilah yang memberikan rasa hangat di dalam tubuh. Gula yang digunakan juga ada beberapa pilihan. Bisa menggunakan gula putih atau gula pasir. Namun juga nikmat jika menggunakan gula merah atau gula Jawa.

Sejarah Klenteng Tertua Di Jawa Barat


Pada tanggal 15 Juni 1855, di Bandung diresmikan sebuah tempat peribadatan yang dikenal sebagai Klenteng. Tempat peribadatan ini digunakan oleh masyarakat Tionghoa yang beragama Budha, Thao juga Konghucu. Awalnya Klenteng ini diberi nama Hiap Thian Kiong yang artinya Istana Para Dewa. Dari prasasti yang ada di dalam klenteng dijelaskan tentang pembangunan serta renovasi klenteng ini 

Pembangunan klenteng ini dilakukan secara swadaya oleh masyarakat Tionghoa di Bandung maupun luar kota Bandung. Renovasi dilakukan pada tahun 1917. Menurut cerita, arsitek yang membangun Klenteng Satya Budi ini didatangkan khusus dari Cina. Sebelum dilakukan renovasi, Klenteng ini merupakan rumah ibadah bersama yang bernama Sheng Di Miao 

Dulu setelah direnovasi Klenteng ini bernama Xie Tian Gong yang berarti Klenteng Masyarakat. Pada masa pemerintahan orde baru kemudian dirubah namanya menjadi Samudra Bhakti, karena pada masa itu nama yang berbahasa Cina sempat dilarang. 

Pada tahun 1965 itu juga nama Klenteng diganti menjadi Vihara karena kebijakan pemerintah yang melarang agama lain bagi kaum Tionghoa selain agama Budha. Namun yang beribadah di sana tetap saja penganut 3 agama yaitu Budha, Thao dan Konghucu.

Jumat, 13 Februari 2015

Bangi Kopitiam Kebon Jati

Ada tempat ngopi klasik yang ada di Jalan Kebon Jati. Namanya Bangi Kopi Tiam. Bangunan cafĂ© ini terlihat dari luar masih mempertahankan arsitektur kuno. Dibelakangnya adalah bangunan hotel Gino Feruci Bandung. Dulu tempat ini memang merupakan bekas Hotel tua yang bernama “Hotel Surabaya”. 

Hotel Surabaya merupakan hotel paling tua di Bandung. Konon kabarnya Hotel Surabaya ini dibangun pada tahun 1886 jauh sebelum ada pasar baru (1906). Pembangunan Hotel Surabaya ini untuk melengkapi adanya stasiun Bandung yang dibangun pada tahun 1884. Karena dibangun oleh pengusaha keturunan Tionghoa dari Surabaya, maka arsitektur Hotel Surabaya ini merupakan campuran antara China dan Eropa. 


Bangunan bekas Hotel Surabaya ini merupakan salah satu cagar budaya di Bandung. Kalau kita datang ke Bangi Kopi Tiam ini ada yang unik di sini. Ketika masuk kita bisa melihat vespa tua yang dijadikan pelengkap interior. Di atas meja bar kita bisa melihat daftar menu yang cukup unik. Di sana tidak saja tertulis menu, tapi juga keterangan dari menu klasik yang ada di sana. Papan keterangan menu ini ditulis dengan kapur putih yang sekarang sudah jarang ditemukan. 

Diantaranya ada menu telur separuh masak. Di papan tersebut juga dijelaskan bahwa telur separuh masak itu adalah menu sarapan pagi tempo doeloe yang dinikmati bersama keluarga. Disajikan di atas piring oval . Ada lagi keterangan tentang menu Asam Laksa yang dijelaskan bahwa menu ini meruapakan Masakan tradisional yang berasal dari Penang dan menjadi hidangan khas raja-raja. Makanan ini juga menjadi makanan kesukaan nyonya-nyonya untuk sarapan pagi. 


Ada lagi menu roti bakar. Di sini bukan dijelaskan tentang roti bakarnya, tapi dijelaskan tentang sejarah roti bakar. Dalam papan tertulis bahwa Roti bakar dahulu di bakar dengan menggunakan arang sampai garing dan dioleskan mentega dan ditaburi gula pasir atau kaya di atas roti itu. Tradisi roti bakar berasal dari orang Hainan yang merantau dari Cina. Bangi 

Kopi Tiam Bandung ini berada di depan hotel Gino Feruci yang beralamat di : Jalan Keboon Jati 71-75 Bandung.

Sejarah Soto Bandung


Soto diperkirakan adalah masakan Cina yang dibawa oleh para pedagang Cina ke Indonesia sejak ratusan tahun yang lalu. Nama Soto pada awalnya adalah Caudo yang merupakan bahasa Mandirin. Lama kelamaan lidah orang Indonesia menyebutnya dengan nama “Soto”. Di Indonesia sendiri, soto kemudian divariasikan dengan ciri khas masing-masing daerah. 

Biasanya soto dibedakan berdasarkan daerah asalnya. Seperti misalnya soto Lamongan, soto Madura, soto Kudus, soto Betawi, soto Makasar dan masih banyak lagi.Salah satunya adalah Soto Bandung. Dari namanya kita akan tahu kalau Soto Bandung adalah Soto yang khas dari Bandung. 

Tapi apa yang membuat soto ini berbeda dengan Soto dari daerah lain di Indonesia? Biasanya soto dari masing-masing daerah dibedakan dari bumbu, kuah serta isiannya. Namun dari berbagai perbedaan itu, yang namanya soto itu memeiliki ciri khas yaitu kuahnya gurih. 

Soto Bandung memiliki ciri khas yang tidak ada pada soto lain yaitu isiannya ada lobak yang diiris tipis-tipis dan ditaburi kedelai goreng. Untuk daging yang dijadikan isian, soto Bandung memilki ciri khas potongan daging berbentuk dadu. Biasanya daging yang digunakan adalah sanding lamur. Pedagang soto Bandung akan menyajikan satu mangkok soto beserta sambal cabe yang terpisah. Soto Bandung ini nikmat disantap selagi hangat. 

Untuk mencicipi Soto Khas Bandung ini kita bisa datang ke : 
Soto Bandung M. Tarya (Sederhana) 
Jalan Pajagalan No. 12A 
Telp : 022-4233355

Sejarah Stasiun Bandung

Sejarah stasiun Bandung dijelaskan dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Dulu yang ditulis oleh Haryoto Kunto pada tahun 1984. Tempat yang sekarang menjadi Stasiun Bandung ini dahulu merupakan tanah tak bertuan yang ditelantarkan. 

Stasiun Bandung diresmikan pertama kalinya pada tanggal 17 Mei 1884 di masa pemerintahan Bupati Koesoemadilaga. Pada saat yang sama itu juga dibuka jalur kereta Batavia- Bandung melalui Bogor dan Cianjur. 

Pembangunan stasiun ini dilakukan setelah dibukanya perkebunan di Bandung sekitar tahun 1870. Jalur kereta api digunakan untuk mengirim hasil perkebunan ke Batavia. Pada tanggal 1 November 1894 dibuka jalur Bandung – Surabaya. Jalur ini juga digunakan untuk mengangkut hasil perkebunan. 

Bahkan para pemilik pabrik dan perkebunan gula dari Jawa Tengah dan Jawa Timur menyewa gerbong kereta yang melalui jalur ini untuk menuju Bandung. Saat itu mereka ke Bandung menghadiri Konggres Pengusaha Perkebunan Gula yang pertama. 

Pembangunan Stasiun Bandung akan membuat pertumbuhan ekonomi kota Bandung meningkat secara pesat. Sehingga pemerintah kota Bandung membangun monument yang berada tepat di depan pintu Stasiun Bandung bagian Selatan. 


Monumen tersebut berupa tugu yang diterangi oleh 1.000 lentera hasil rancangan Ir. EH De Roo. Namun kini monumen tersebut telah diganti dengan replika lokomotif uap seri TC 1008 yang dulu digunakan pada jalur Bandung – Batavia. Monumen tersebut diberi nama “Purwa Aswa Purba”. 

Sebagai perkembangan dari pembangunna jalur kereta dan Stasiun Bandung maka di sekitarnya di bangun gudang. Gudang-gudang ini digunakan untuk menyimpan serta menampung hasil perkebunan yang akan dikirim dengan kereta ke luar Bandung. Bangunan gudang tersebut berada di daerah Cibanngkong, Kosambi, Jalan Cikudapateuh, Jalan Braga, PAsir Kaliki, Kiara Condong, Ciroyom serta Andir. 

Selain itu juga dibangun hotel pertama diBandung yang berada di dekat Stasiun yaitu Hotel Andreas. Bahkan di dekat Stasiun ini juga ada tempat prostitusi yang hingga kini masih ada yang dikenal dengan “Saritem”. 

Perluasan bangunan lama Stasiun Bandung dilakukan pada tahun 1909 oleh arsitek FJA Cousin. Perluasan ini ditandai dengan peron bagian Selatan yang bergaya Art Deco dengan hiasan kaca patri . Pada tahun 1918 dibangun perlintasan Bandung – Rancaekek- Jatinangor-Tanjungsari- Citali. 

Setahun kemudian tepatnya pada tahun 1919 dilakukan pembangunan jalur Bandung-Citeureup- Majalaya. Dilanjutkan dengan pembangunan jalur Citeureup- BAnjaran- PAngalengan pada jalur yang sama pada tahun 1921. Di tahun 1918 juga dibangun jalur Bandung – Kopo yang merupakan jalur perkebunan the. Jalur ini dilanjutkan menuju Ciwidey pada Maret 1921. Sejak tahun 1990 bagian depan Stasiun berpindah dari peron bagian Selatan ke peron Utara. Yaitu peron yang mengarah ke jalan Kebon Kawung.