Tampilkan postingan dengan label belajar menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belajar menulis. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Februari 2016

Motivasi Menulis

Produktivitas menurun? Itu bisa. Bukankah penulis juga manusia yang tidak sempurna. Jadi wajar dong kalau suatu  ketika produktifitasnya menurun. Ada beberapa hal yang menyebabkan produktifitas penulis ini menurun seperti rasa bosan, mati ide, dan lain sebagainya.

Sebagai manusia biasa, yang namanya penulis itu memang perlu liburan. Penulis toh bukan mesin naskah yang bisa terus menerus memproduksi naskah tanpa henti. Bahkan naskah yang dihasilkan pada saat otak sudah jenuh justru akan buruk. Bisa jadi naskah itu ditolak penerbit, atau bisa juga diterima tapi dengan banyak revisi. Kalau sudah begitu menulispun tidak lagi memakai hati. JAdi bisa ditebak, pembaca juga tidak akan tertarik untuk membaca tulisannya.

Untuk mengembalikan semangat menulis, seorang penulis perlu motivasi untuk menuls. Seperti misalnya :

1. Membaca buku
Jenuh dengan kegiatan berpikir dan menulis, maka membaca buku bisa menjadi vitamin. Berbagai ide baru bisa saja tiba-tiba muncul dan semangat menulis kembali meningkat.

2. Mengobrol dengan teman
Sesekali pergi keluar dan bertemu dengan teman sambil ngopi atau makan bersama bisa jadi akan menyegarkan pikiran dan mendapatkan ide baru.

3. Pergi ke Toko Buku
Kalau pergi ke toko buku bukan berarti harus punya banyak uang kemudian membeli buku ya. Bisa saja kita melihat-lihat buku baru untuk sekedar cuci mata.

4. Ke Pasar Buku bekas.
Di tempat ini ada banyak sekali buku-buku terbitan lama yang bisa saja sudah tidak diterbitkan lagi. Buku-buku lama ini akan membuat kita semangat untuk menjadikannya bahan tulisan dan membuat buku baru yang lebih baik lagi isinya.

5. Travelling
Piknik itu penting buat penulis. Tapi yang namanya piknik gak perlu jauh dan mahal juga. Terkadang aku cukup piknik dengan naik kereta commuter line dari stasiun dekat rumah ke bogor, terus makan soto mie di taman topi dan balik lagi. Biayanya murah meriah cuma Rp 25 ribu. saja. Itu juga kadang masih sisa uangnya.

6. Membuat daftar impian.
Sebelum memutuskan jadi penulis aku punya impian. Salah satunya pengen menghasilkan buku Best Seller. Nah kalau semangat menulis menurun, maka untuk menumbuhkan kembali motivasi menulis aku akan membuat catatan kira-kira buku apa yang bisa aku tulis dan bisa menjadi best seller. Kadang daftar impian ini bisa berkembang menjadi draft buku. Selain itu impian lain juga bisa meningkatkan motivasi menulis. Seperti misalnya impian mempunyai mobil, rumah dll.

7.Nge-Blog
Saya mempunyai beberapa blog. Tapi gak setiap hari up date karena blog bagi saya adalah sebuah pelatian. Jadi kalau jenuh menulis buku maka saya akan lari ke blog. Di blog saya bisa nulis suka-suka dengan bahasa merdeka.

8. Nonton Film/TV
Nonton TV bisa jadi menghilangkan rasa jenuh menulis yang murah meriah. Kalau mau lebih menikmati lagi maka kita bisa nonton film di bioskop. Siapa tahu setelah nonton  gak cuma semangat menulis yang didapat tapi juga ide-ide baru

Jadi intinya kalau sudah berniat jadi penulis itu gak boleh patah semangat. Dan banyak cara untuk menemukan motivasi menulis kembali ketika jenuh dan semangat menurun. Kalau seorang temanku pernah bilang bahwa :
 "Seorang pengarang atau penulis buku, dituntut harus KRETIF, INOVATIS, OBJEKTIF dam DEDIKATIF. Bermental baja, pantang menyerah. Tak kenal kata gagal, karena sekali gagal, seorang penulis akan kembali bangkit dan berusaha untuk meraih impiannya. Tunjukkan pada PENERBIT bahwa karyamu adalah pantas untuk dipublikasikan. Jelaskan pada penerbit, kelebihan-kelebihan yang ada pada karyamu dibanding karya orang lain. 

Minggu, 17 Januari 2016

Promosi Buku Gak Harus Narsis


Mumpung lagi keluar buku terbaruku, jadi kali ini mau ngomongin soal promosi buku. Tapi kali ini buku terbarunya bukan buku anak lho ya. Melainkan buku ketrampilan. Judulnya "Menjahit Untuk Pemula." Buku ini memang diperuntukkan bagi siapapun yang ingin belajar menjahit. Di sini ada cara mengukur badan, membuat pola dasar, merancang bahan yang akan dijadikan baju, sampai cara menjahitnya. Harganya murah meriah kok yaitu Rp 40.000 (empat puluh ribu rupiah).

Sebenarnya ini bukan buku baru-baru banget. Ini adalah buku lama yang judulnya adalah "Pintar Menjahit Untuk Pemula." Buku ini sudah dicetak sejak tahun 2005 dan hingga tahun 2014 buku tersebut sudah mengalami cetakan sebanyak 22 kali dengan jumlah @ 3000 eksemplar untuk sekali cetak. Sedangkan cetakan pertama adalah 5.000 eksemplar.

Itu belum termasuk untuk penjualan proyek lho ya. Jumlah penjualan buku "pintar Menjahit Untuk Pemula" untuk keperluan proyek memang tidak pasti. Tapi pernah dulu dicetak sampai 7.500 eksemplar. Memang untuk penjualan proyek ini harganya lain dari harga penjualan biasa. Royaltinya pun hanya separoh dari penjualan biasa alias 5% saja. Tapi kalau jumlahnya banyak lumayan juga bukan?

Kembali lagi soal promosi buku. Jadi kenapa bisa buku "Pintar Menjahit untuk Pemula" ini dicetak berulang-ulang, bahkan sampai direvisi dan dicetak lagi? Padahal saya gak pernah melakukan promosi apapun. Saat itu tahun 2005 saya masih gaptek habis. Gak ngerti yang namanya branding, apalagi promosi buku  dengan cuap-cuap di sosmed.

Lagi pula saya juga bukan orang yang suka narsis. Lagi pula menurut saya promosi buku dengan cara narsis itu gak akan mendongkrak banyak penjualan. Karena pada dasarnya orang membeli buku karena :

  1. Membutuhkan isi buku tertentu
  2. Suka pada buku tertentu sehingga bisa mendapatkan kesenangan dengan memmbacanya 
Jadi kalau ada orang yang membeli buku karena alasan pertemanana, atau faktor gak enak karena ada di komunitas tertentu yang sudah menerbitkan buku tersebut, maka yang ada orang tersebut akan kecewa ketika ternyata buku yang dibelinya tidak bermanfaat atau tidak bisa memberikan kesenangan. Bagi penulis sejatinya akan sangat sedih jika bukunya tidak bsia bermanfaat bagi pembacanya, karena itu artinya membohongi pembaca. 


Jadi begini sebenarnya. Tahun 2016 ini ada beberapa buku yang sudah saya tulis di tahun 2005 - 2010 lalu dan penjualan bagus, kemudian phak penerbit meminta saya untuk merevisinya kembali. Jadi buku revisian ini akan diterbitkan lagi menjadi buku baru. Dalam merevisi ini saya hanya perlu menambah atau mengurangi isinya. Untuk buku jahit ini saya menambahkan kreasi bajunya. Sehingga ada beberapa model baju baru yang menjadi contohnya. Sementara untuk buku yang lain saya justru diminta untuk mengurangi isinya.

Kembali lagi soal promosi buku ya. Pasti masih pada penasaran kenapa buku-buku saya bisa dicetak berulang-ulang tanpa ada promosi yang berarti dari saya. Berikut ini adalah langkah-langkah saya dalam menulis buku sehingga saya gak perlu narsis untuk promosi buku tap penjualan bisa maksimal.

  1. Membuat konsep buku berdasarkan kebutuhan calon pembaca. Jadi saya harus tahu buku ini nantinya untuk siapa dan berapa banyak orang yang membutuhkannya. Ini penting karena semakin banyak orang membutuhkan buku yang kita tulis, maka akan semakin tinggi tingkat penjualannya. 
  2. Membuat buku yang bisa berguna dalam jangka waktu lama. Seperti misalnya buku jahit yang saya buat ini akan digunakan sampai kapanpun, karena ilmunya ya tidak akan berubah, hanya saja konsepnya memang perlu dikembangkan sesuai dengan kebutuhan jaman. 
  3. Membut konsep penjualan sejak awal. Memang penjualan adalah tugas dari marketing si penerbit. Tapi tidak ada salahnya kita membantu mempermudah tugas si marketing. Ini bisa kita lakukan dengan melakukan riset pasar buku. Dari hasil riset itu kita akan tahu seberapa besar penjualan buku yang bisa dicapai dan apa kelemahan serta kelebihan dari setiap buku yang sudah ada. Dengan demikian kita akan bisa membuat konsep buku yang penjualannya bisa bagus di toko buku ataupun di toko buku online. 
  4. Membuat buku yang bisa dicetak untuk proyek. Biasanya pemerintah akan mencetak buku-buku pengayaan yang akan didistribusaikan ke perpustakaan, lembaga kursus dll. Nah para penulis buku bisa memanfaatkan peluang ini. Kita bisa melakukan riset dari kurikulum sekolah dan mendapatkan peluang ide di sana. 
Itulah yang saya lakukan selama ini. Memang nama saya gak akan begitu dikenal di sosisal media. Tapi yang penting bukankah penjualan buku bisa tinggi dan royalti bisa banyak? Pilih mana hayo terkenal di mana-mana tapi bukunya akan banyak yang di obral karena gak laku karena hanya mengandalkan penjualan toko buku dan gak berumur panjang keterbacaannya., atau gak begitu terkenal tapi royalti tinggi ? Jadi dari apa yang sudah saya alami terbukti bukan kalau proosi buku itu gak harus narsis. 





Sabtu, 08 Agustus 2015

Penyelesaian Konflik

Konflik diperlukan supaya cerita kita menjadi seru. Kalau sudah ada konflik lalu apa yang harus dilakukan? Tentu saja kita harus menyelesaikan cerita. Nah cara menyelesaikan cerita ini adalah dengan menyelesaikan konflik. Lalu bagaimana caranya menyelesaikan konflik agar cerita kita menjadi seru dan selalu terkesan oleh si pembaca? 

  1. Sebelum menulis cerita harus sudah tahu penyelesaiannya 
  2. Akhir cerita bisa sedih atau bahagia atau bisa saja sedih dan bahagia. 
  3. Dalam cerita yang berakhir sedih itu artinya keinginan si tokoh utama tidak tercapai. 
  4. Dalam cerita yang berakhir bahagia akan mengisahkan bahwa apa yang diinginkan oleh si tokoh utama mendapatkan apa yang diinginkannya.  
  5. Ada juga akhir sedih yang bahagia. Ini terjadi ketika keinginan si tokoh tidak tercapai, tapi si tokoh utama tersebut mendapatkan hal lain yang membuat dirinya bahagia. 
  6. Akhir yang bahagia juga bisa bercampur dengan sedih. Yaitu ketika keinginan si tokoh utama tercapai namun cara mencapainya dengan cara yang tidak baik. 
  7. Rangkaian kejadian menuju penyelesaian konflik harus dibuat logis dan saling berhubungan antara satu kejadian dengan kejadian lain. Jangan sampai ada adegan yang percuma karena tidak ada hubungannya dengan kejadian-kejadian lainnya.



Kamis, 23 Juli 2015

Konflik dalam Cerita

Konflik sama juga dengan masalah. Membuat cerita sama halnya dengan membuat masalah. Jadi dalam setiap cerita pasti ada konflik. Jika tidak ada konfilik maka itu bukan cerita namanya. 

Konflik biasanya dialami oleh si tokoh utama. Penulis bisa mendapatkan konflik dengan melihat masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya. Itulah gunanya riset. Penulis bisa melakukan interview pada teman dekat atau bisa juga mengamati kemudian membayangkan. 

Seperti misalnya membayangkan bagaimana perasaan teman kita yang baru saja menerima hadiah dari orang yang tidak dikenal. Lalu apa yang akan dia lakukan pada hadiah itu? Apakah akan menyelidiki si pemberi hadiah atau akan mengembalikan hadiah tersebut? Bagaimana caranya dia mengetahui latar belakang si pemberi hadiah? Mengapa hadiah itu bisa diberikan untuknya? 

Buatlah pertanyaan sebanyak mungkin dari satu kejadian yang dialami. Maka itu akan menjadi konflik yang kompleks. Konflik ini bisa kita susun seperti menyusun puzzle hingga menjadi sebuah cerita yang menarik.


Jumat, 05 Juni 2015

Mengenal Karakter Penerbit itu Perlu

Penolakan naskah seringkali terjadi pada penulis baik itu penulis pemula bahkan penulis yang sudah senior seklaipun. Salah satu alasan naskah kita ditolak adalah karena tidak sesuai dengan penerbit. Misalnya saja kita mengirim naskah novel anak kepada penerbit yang lebih suka menerbitkan kumpulan cerita. Jadi bisa dibilang penolakan naskah kita karena salah alamat. 

Untuk mengetahui karakter penerbit tentu saja kita harus melakukan riset kecil. Seperti misalnya jenis buku apa yang lebih sering diterbitkan oleh si penerbit. Berapa ketebalan buku yang lebih disukai oleh si penerbit. Karena ada juga lho penerbit yang lebih suka menjual buku-uku tebal yang eksklusif dengan harga mahal. Tapi ada juga penerbit yang lebih suka menerbitkan buku-buku novel dengan jumlah halaman yang standar dan penampilan yang biasa-biasa saja. 

Minggu, 03 Mei 2015

Mencari Ide Cerita Dengan Mudah

Salah satu alasan klasik untuk menunda menulis adalah tidak ada ide. Berlama-lama didepan komputer hanya untuk mencari ide. Padahal yang namanya ide itu ada banyak sekali. Saking banyaknya bahkan bisa dibilang bahawa ide itu beterbangan di sekitar kita dan menunggu untuk kita tangkap salah satunya. 

Sebuah cerita akan menarik kalau ada masalah atau konflik. Tapi setiap masalah yang ada dalam cerita juga harus ada penyelesaiannya lho. Setiap orang pasti pernah punya masalah bukan? Nah masalah yang pernah kita alami ini bisa jadi salah satu sumber ide yang bagus. 

MAsalah yang kita temui biasanya disebabkan oleh kebiasaan buruk kita sendiri. Nah dari kebiasaan buruk ini kita bisa kembali merunut hingga menjadi ide cerita. Misalnya apa kebiasaan buruk kita, kemudian apa akibat kebiasaan buruk itu bagi orang-orang yang ada disekeliling kita. Lalu bagaimana caranya supaya kita menjadi jera dan tidak melakukan kebiasaan buruk itu lagi. 

Enaknya kalau dalam membuat cerita fiksi, maka kita bisa melebih-lebihkan kejadian yang kita alami hingga menjadi cerita yang menarik. Kebiasaan buruk ini bukan saja berasal dari diri kita sendiri lho. Bisa saja kita mendapatkan ide dari kebiasaan buruk orang-orang yang ada di sekitar kita. Seperti misalnya kebiasaan buruk adik, paman, tante, bahkan binatang peliharaan kita. 

Selain dari melihat kebiasaan buruk, kita juga mendapatkan ide dari kejadian-kejadian yang ada di sekitar kita. Dengan mengisi titik-titik dari pertanyaan , "apa yang terjadi jika ...... " maka kita akan mendapatkan ide cerita. 

Misalnya saja " apa yang terjadi jika air dalam gelas itu berubah menjadi warna pelangi?"

Kemudian dari pertanyaan yang ada kita bisa melengkapinya dengan pertanyaan-pertanyaan lainseperti misalnya : 

  • "Apa reaksi orang-orang yang melihatnya?" 
  • "Apakah air pelangi itu punya khasiat tertentu?" 
Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang bisa kalian buat sendiri. Yang perlu diingat adalah kita harus bisa memberikan jawaban yang masuk akal atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. 

Kita juga bisa lho bermain angka untuk mendapatkan ide cerita. Misalnya kita punya angka kesayangan yaitu "33". Nah kita bisa mengambil sebuah buku dan membukanya di halaman 33. Dari halaman yang kita buka itu , kita bisa ambil kata ketiga yang ada di tiga kalimat pada paragraf ke tiga. 

Nah dari tiga kata tersebut, maka kita bisa merangkainya menjadi sebuah kalimat baru. Dari kalimat baru itu kita perpanjang lagi deh jadi paragraf baru. Nah satu paragraf baru ini bisa kita jadikan ide cerita untuk kita buat sinopsisnya menjadi satu halaman.  

JAdi tidak ada lagi ya alasan untuk tidak menulis karena tidak punya ide cerita. 


Rabu, 10 Desember 2014

Menulis Memoir

Memoir merupakan bagian dari otobiografi. Jika otobiografi berisi tentang hampir seluruh perjalanan hidup seseorang, maka memoir berisi sebagian atau bahkan hanya satu bagian saja dari kehidupan seseorang yang bisa menginspirasi orang lain. 

Beberapa kisah kehidupan yang bisa diangkat diantaranya: 
  • Inspirasi mencapai sukses 
  • Berani karena benar 
  • Berjuangan melawan penyakit dll 

Berikut adalah tips menulis memoir 
  1. Cari buku-buku memoir di toko buku untuk dijadikan inspirasi. 
  2. Buat sketsa kehidupan anda atau orang lain yang akan dijadikan objek 
  3. Tanyakan pada teman atau suami atau orang terdekat kita yang lain, bagian mana dari sketsa yang kita buat ini yang lebih menarik untuk didokumentasikan sebagai memoir. Ini perlu dilakukan karena biasanya kita akan menggebu-gebu kalau akan menceritakan kisah menarik dalam kehidupan kita sendiri. 
  4. Jika anda ingin menuliskan memoir namun belum terbiasa menulis, sebaiknya cari pendamping menulis, yaitu orang yang sudah terbiasa menulis dan bisa membantu tulisan anda bisa menjadi lebih baik. 
  5. Mulailah dari bagian yang paling menarik untuk diceritakan, tidak peduli apakah bagian itu merupakan bagian awal atau bagian tengah, bahkan bagian akhir sekalipun. 


Hope tips pagi ini bisa menjadi inspirasi ya …. Have a wonderfull writing ….♥♥♥

Alur Maju

Hari ini just memberikan tips praktis yaitu menggunakan alur maju bagi pemula yang mau cari aman nulis novel. 

Urutan alur maju yaitu : 

  1. Perkenalan tokoh 
  2. Muncul konflik 
  3. Konflik memuncak
  4. Konflik selesai 
  5. Ending 

Moga bisa jadi inspirasi hari ini ya .............♥♥♥

Tema Artikel

Mumpung ini adalah akhir tahun, maka kita bisa merencanakan mengirim artikel ke media dengan beberapa tema yanga da di setiap bulannya sesuai dengan peringatan hari-hari yang bersejarah di setiap bulannya. 

Ada satu rahasia mengirim tulisan di media agar bisa dimuat, terutama di majalah. Biasanya majalah sudah mempunyai tema dalam setiap edisinya, dan tema itu berkaitan dengan hari-hari special pada setiap bulannya. Berikut 

ini beberapa tema yang bisa dijadikan ide setiap bulannya di tahun 2015 nanti: 

Januari : tahun baru, Imlek dan hari gizi 

Pebruari : Maulid Nabi, Valentine 

Maret : Nyepi, Supersemar dan Bandung lautan Api 

April ; Paskah, Hari Kartini 

Mei : Waisak, Hari Pendidikan Nasional , Kebangkitan Nasional dan Pembebasan Irian Barat 

Juni : Isra’ MI’raj, Hari Lahirnya Pancasila, Hari Ulang Tahun Jakarta 

Juli : Hari Anak Indonesia 

Agustus: Hari Kemerdekaan Indonesia , Hari Pramuka, Idul Fitri 

September: Hari Aksara , Hari berkabung nasional gerakan 30 sept 

Oktober: Idul Adha, hari kesaktian pancasila, hari ABRI, hari sumpah pemuda. 

Nopember: Tahun Baru Islam, Hari Guru (PGRI) 

Desember: Natal, Hari Ibu 

NOTE: Kalau mau mengirim artikel ke majalah, sebaiknya 3 bulan sebelum majalah itu sendiri terbit, apalagi kalau itu adalah majalah bulanan. Karena biasanya redaksi majalah akan menentukan tema dan isi majalah sejak 3-4 edisi sebelumnya. 

Good luck all...............♥♥♥

Menulis Novel dalam 14 Hari

Ini adalah percakapan saya dengan seorang teman yang baru  belajar menulis, tapi semangatnya bagus banget untuk bisa jadi penulis. 

“Nulis Novel dalam 14 hari yuk” 

“Bisakah?” 

“Ya tentu saja bisa dunk.... kalau saya bisa, kamu juga bisa. Lha ini saya baru menyelesaikan novel anak saya tadi malam. “ 

“Mbak kan memang penulis, kalau saya kan cuma hobi menulis. “ 

“Lha niat apa tidak?” 

“Niat”. 

“Ya udah,DO IT. “ 

“Berapa halaman novel yang ditulis? “. 

”Realistis aja ....... 100 halaman A-4 1,5spasi dengan huruf TNS 12.” 

“Berapa jam dalam sehari waktu yang harus diluangkan untuk menulis?” 

“Gak lebih dari 5 jam dalam sehari. Karena targetnya adalah 10 halaman perhari. Buat yang masih belum terbiasa menulis cepat, biasanya akan menulis 1 halaman dalam waktu sekitar 30 menit. Jadi kalau satu jam bisa menulis 2 halaman. Tapi bagi yang sudah terbiasa menulis cepat tentu saja akan dibutuhkan waktu yang lebih singkat lagi.” 

“Jadi apa saja yang kita lakukan dalam 14 hari?” 

Ini yang kita lakukan pada hari ke: 

1. Membuat sinopsis dan garis besar cerita 
2. Membuat karakter tokoh dan setting tempat 
3. Menulis bagian 1 = halaman 1 s/d 10 
4. Menulis bagian 2 = halaman 11 s/d 20 
5. Menulis bagian 3 = halaman 21 s/d 30 
6. Menulis bagian 4 = halaman 31 s/d 40 
7. Menulis bagian 5 = halaman 41 s/d 50 
8. Menulis bagian 6 = halaman 51 s/d 60 
9. Menulis bagian 7 = halaman 61 s/d 70 
10. Menulis bagian 8 = halaman 71 s/d 80 
11. Menulis bagian 9 = halaman 81 s/d 90 
12. Menulis bagian 10 = halaman 91 s/d 100 
13. Editing = membaca kembali dan merapikan ejaan serta kalimat, termasuk menyelaraskan bagian-bagian yang aneh 
14. Finishing= melanjutkan kegiatan pada hari ke-13 hingga selesai . 

Note : 
Kalau menulis, jangan pernah berhenti. Menulislah terus apa yang ingin ditulis. Jangan pedulikan apakah tulisan kita nyambung atau tidak, dan ejaannya benar atau tidak. Baru setelah satu bagian selesai, kita baca secara keseluruhan kemudian mengeditnya. 

Sekali kita berhenti, itu akan menjadikan kita lama dalam menulis beberapa halaman saja, karena waktu kita akan habis oleh kegiatan membaca berulang-ulang.

Membuat Tokoh Dalam Cerita

Sebelum membuat cerita, tentu saja kita harus menyiapkan tokoh yang akan ada dalam cerita. Tokoh itu bisa jadi tokoh utama dan juga tokoh-tooh yang lain. Tokoh utama bisa saja bukan hanya 1 orang, tapi bisa saja 2 atau 3 orang. Misalnya saja tokoh utama dalam novel 5 sekawan jumlahnya ada 5 orang. 

Sebagai penulis, tentu saja kita harus tahu benar bagaimana karakter dan ciri khas masing-masing tokoh yang akan kita mainkan dalam cerita yang kita buat. Akan lebih baik jika kita membuat catatan tersendiri tentang tokoh yang akan kita mainkan. Seorang penulis yang baik akan kenal dengan baik dan mengingat dengan baik setiap karakter yang dimasukkan dalam setiap ceritanya. 

Agar cerita kita lebih seru, ada baiknya jika tokoh yang kita buat memiliki karakter berbeda yang mudah diingat oleh pembaca. Misalnya saja tokoh yang kita buat itu suka mengumpulkan benda-benda indah diakhir setiap acara yang didatanginya. 



Rabu, 05 November 2014

Membuat Dialog

Dialog itu bisa membuat sebuah cerita bisa lebih hidup Tapi dialog yang berlebihan seringkali akan membuat pembaca menjadi bosan dan akhirnya tidak melanjutkan membaca ceritanya. 

Ketika membuat dialog dalam cerita tentu saja kita harus menghindari yang namanya dialog tidak penting seperti misalnya: 
"Hai apa kabar?"
"Baik. Bagaimana kabarmu?"
"Baik juga"

Membosankan sekali bukan dialog diatas. Dialog basa-basi seperti itu tidak akan memberikan penjelasan apapun dalam cerita kita. Dari pada diberikan dialog yang membosankan seperti itu, lebih baik kita menuliskan narasi : kedua sahabat yang sudah lama tidak bertemu itu saling menyapa. 

Dialog juga berfungsi untuk memperkuat karakter dalam sebuah cerita. Itu sebabnya kita harus tahu benar bagaimana karakter setiap tokoh yang kita buat. Jangan sampai kita membuat dialog tokoh tuna rungu dengan kata-kata yang sangat jelas. Atau membuat dialog seorang ustadz yang berkata kotor dan memaki-maki orang lain. 

Supaya dialog kita enak dibaca, ada baiknya kalau kita sering mengamati orang-orang yang ada disekitar kita. Bisa saja dialog orang yang ada di angkutan umum bisa kita jadikan dialog dalam cerita yang akan kita buat. KIta juga bisa mengamati bagaimana seorang anak yang merengek minta mainan. Dengan demikian dialog yang kita buat akan menjadi alami dan tidak klise. 

Membaca kembali dialog yang kita buat juga penting dilakukan. Ini supaya kita bisa merasakan apakah dialog yang kita buat sudah terengar alami atau belum. Jika kita merasakan dialog yang kita buat terasa aneh, maka kita bisa memperbaikinya saat itu juga. Begitu juga jika dialog yang kita buat tersebut teralu panjang atau membosankan, maka kita bisa memotongnya. 

Jangan lupa menggunakan tanda baca yang benar dalam dialog. Agar pembaca tidak bingung dengan dialog yang kamu buat. GUnakan alinea baru untuk setiap dialog dari tokoh yang berbeda. Jika menuliskan dialog yang dilakukan oleh lebih dari 2 orang, maka sebaiknya kita menuliskan nama si tokoh yang mengucapkan dialog agar pembaca tidak bingung. 



Judul Cerita

Ada yang bertanya, "sebaiknya membuat judul itu sebelum menulis cerita atau sesudah menulis cerita?" 

KEdua-duanya bisa dilakukan. Kita bisa menuliskan judul sebelum menulis cerita atau pun setelah menulis cerita. Ada baiknya kita membuat beberapa judul untuk cerita yang akan kita buat. Setelah cerita selsai, maka dari beberapa daftar judul itu bisa kita pilih salah satu yang paling menarik. 

"Lalu judul yang menarik itu seperti apa?" 
"Apakah judul yang menarik itu bahasanya harus keren?" 

Judul yang menarik tentu saja yang bisa membuat pembaca penasaran untuk membaca lebih lanjut cerita kita. Judul yang menarik tidak harus bahasanya keren atau kata-katanya bagus. Justru kata-kata yang aneh bisa jadi membuat pembaca merasa penasaran. Seperti misalnya "Larung".

PEmbaca pasti akan bertanya-tanya, "Larung itu sejenis apa ya?" "Apakah sejenis makanan, atau sejenis hantu?" "Apa menariknya larung ini?"

Semakin banyak pertanyaan yang ditimbulkan dari judul yang kita buat, maka akan semakin menarik bagi pembaca. Hal ini berlaku juga sebaliknya. Jika judul yang kita buat sudah bisa membuat pembaca menebak apa isi ceritanya, maka artinya judul itu tidak menarik. 



Pentingnya Tanda Baca

Seringkali terjadi, kita mengabaikan tanda baca. Kita tidak peduli pada tanda titik, koma, apalagi tanda seru dan tanda tanya. Hasilnya adalah tulisan kita melaju begitu saja, dan ketika dibaca seringkali terasa aneh.

Misalnya kita menulis, "ambilkan bukuku."
Ini adalah kalimat perintah. Sudah seharusnya kita memberikan tanda seru di belakangnya. Tapi karena kita seringkali mengabaikan tanda baca, maka kita lupa memberikan tanda seru. Sehingga pembaca mengira ini adalah kalimat biasa. Bukan merupakan perintah. 

Bisa saja pembaca mengartikan bahwa si orang yang mengatakan itu sedang memberitahukan kalau ia sedang mengambil buku. Bukan sedang menyuruh seseorang mengambilkan buku miliknya. 

Untuk bisa tahu lebih banyak tentang tanda baca kita memnag harus banyak-banyak membaca dan melihat buku "Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan" (EYD). Memang kita bisa saja menulis tanpa memperhaikan tanda baca hingga cerita selesai. Tapi kalau cerita itu sudah selesai, maka kita perlu melakukan self editing termasuk memperbaiki tanda baca. Ini penting kita lakukan agar kita tidak menyiksa orang yang membaca tulisan kita nantinya, termasuk sang editor. 


Referensi Itu Penting Sebelum Menulis

Seseorang yang banyak membaca itu akan memiliki banyak ilmu pengetahuan. Ketika seseorang yang banyak membaca itu menulis, maka tulisan yang dihasilkannya pun akan memberikan banyak ilmu pengetahuan bagi pembacanya. Sangat mustahil rasanya jika seseorang yang tidak membaca bisa menghasilkan tulisan yang baik. 

Sebelum menulis memang sebaiknya kita membaca hal-hal yang ada hubungannya dengan tulisan yang akan kita tulis. Ini supaya tulisan kita tidak terasa garig. Coba bayangkan bagaimana membosankannya tulisan kita jika isinya hanyalah seputar keluh kesah atau curhat si penulisnya saja. 

Referensi sebenarnya bukan saja bisa didapat dari bahan bacaan saja. Kita juga bisa mewawancarai seseorang untuk mendapatkan referensi tentang hal-hal yang akan kita tulis. Misalnya saja kita akan menulis tentang kehidupan seorang pembalap, maka kita bisa mewawancarai si pembalap dan mencatat apa saja yang diceritakan oleh nara sumber yang kita wawancarai itu. 

Referensi juga bisa diperoleh dari internet. Kita bisa mencari tahu tentang kehidupan Suku-Suku yang tinggal di Lembah balliem tanpa kita harus datang langsung ke sana. Dari internet, kita bisa mendapatkan banyak sekali data dan foto yang bisa kita jadikan referensi dari cerita yang akan kita tulis. Tapi tentu saja hasilnya akan jauh lebih baik jika kita datang langsung ke Lembah BAlliem dan mengamati langsung kehidupan masyarakat di sana. 

Ada banyak cara mendapatkan referensi. Tapi tentu saja membaca masih menjadi hal utama untuk mendapatkan referensi bagi tulisan yang akan kita buat. Semakin banyak yang kita tahu, maka semakin banyak yang bisa kita ceritakan pada pembaca. 


Ide Cerita Bisa Datang Kapan Saja

Kita tidak pernah tahu kapan ide itu akan datang. Ide cerita bisa datang pada saat kita menunggu bis di halte. Bahkan ide bisa saja datang ketika kita sedang berbelanja ke pasar. 

Tentu saja kita tidak ingin ide itu hilang begitu saja. Itu sebabnya yang namanya buku catatan ide harus selalu ada di samping kita. Tapi yang namanya mencatat tentu saja tidak harus di dalam buku. 

Jaman sekarang yang serba elektrik, maka mencatat ide bisa dilakukan dengan menggunakan gadget. Setidaknya kita juga bisa mencatat ide yang tiba-tiba datang itu di HP. Setelah itu barulah kita mencatat ulang dalam catatan ide yang sudah kita persiapkan.

Catatan ide bisa berbentuk buku. Bisa juga dalam sebuah file word yang kita simpan di dalam komputer. Kalau punya kedua-duanya, itu juga lebih bagus. Yang penting adalah kita tidak kehilangan ide, karena ide bisa datang kapan saja dan di mana saja. 



Senin, 03 November 2014

Membuat Konflik

Kalau kemaren kita sudah tahu tentang apa pentingnya konflik dalam cerita (baca: Konflik Dalam Cerita), maka kali ini kita akan membahas tentang membuat konflik. Tentu saja konflik yang akan kita buat ini supaya cerita kamu menjadi seru dan plot menjadi dinamis.

Supaya mudah membuat konflik maka sebelumnya kita perlu menemukan "apa yang diinginkan oleh si tokoh." Nah konflik akan bisa dibuat ketika si tokoh ini ingin mendapatkan apa yang diinginkannya itu.  

Semakin sulit si tokoh mendapatkan apa yang diinginkannya, maka akan semakin seru konflik yang bisa kita buat. Jadi bisa dibilang konflik itu adalah hambatan si tokoh dalam mencapai tujuannya. 

Misalnya saja kita mengambil tokoh seorang anak tuna rungu. Ia ingin menjadi seorang pencipta lagu. Tentu saja akan banyak sekali hambatan yang akan ditemukan si anak tuna rungu ini. Bisa saja hambatan itu berupa cemoohan orang-orang yang ada disekitarnya, atau bisa juga ketiadaan alat serta guru yang bisa membimbingnya. 




Minggu, 02 November 2014

Langkah Menulis Cerita Anak

Kalau ada yang masih bingung bagaimana menulis cerita anak, maka langkah-langkah berikut ini bisa diikuti. 

  1. Tentukan bentuk dan jenis ceritanya. Apakah itu cerita pendek, novel, dongeng, fabel, cerita fantasi, atau cerita keseharian dan lain sebagainya. 
  2. Temukan tema, yaitu apa yang akan kita ceritakan. BIsa tema tentang lingkungan, persahabatan dll. 
  3. Jika diperlukan kamu bisa melakukan riset. Yaitu mencari bahan bacaan yang mendukung dalam bercerita nantinya. Misalnya riset tetang tempat atau kebiasaan penduduk di suatu kota yang akan menjadi latar dalam cerita kita nantinya. 
  4. Buatlah tokoh yang akan kamu tampilkan dalam ceritamu.Baik itu tokoh utama, tokoh antagonis juga tokoh pembantu. 
  5. Tentukan juga latar atau tempat kejadian ceritamu. 
  6. Buatlah jalan ceritanya. Yaitu bagian awal, tengah dan akhir cerita. Akan lebih baik dan sangat membantu jika jalan cerita ini kamu buat sebagai kerangka cerita.
  7. Mulailah menulis
  8. Buat judul ceritamu. Judul ini bisa juga lho dibuat di awal. 
  9. Baca kembali ceritamu dan lakukan editing. Jika ada kalimat yang aneh maka kamu bisa memperbaikinya. 




Catatan Membuat Tokoh yang Menarik



Sudah lebih dari 8 tahun yang lalu saya membaca buku berjudul " The Secret of Paltform 13" sebuah novel fantasi karya Eva Ibbotson. Namun sampai hari ini saya masih selalu teringat pada tokoh dan settingnya yang unik, ....sebuah pulau yang indah di bawah tanah yang merupakan kerajaan yang dihuni oleh orang2 unik yang luar biasa 

Dari beberapa novel dewasa maupun novel anak-anak yang pernah saya baca , maka bisa dicatat pelajaran yang bisa diambil oleh penulis supaya pembaca menjadi terkesan, diantaranya : 

  1. Tokoh utamanya imajinatif , misalnya manusia dengan kepandaian biasa-biasa saja yang hidup diantara orang-orang tidak biasa bahkan luar biasa atau sebaliknya. 
  2. Tokoh merupakan hal utama yang bisa membuat pembaca betah dan penasaran untuk membaca lebih banyak lagi setiap bagian yang ada dalam novel, oleh karena itu tokoh harus menarik atau unik. Hal ini bisa di tampilkan melalui pikiran, bentuk tubuh maupun isi pikiran. 
  3. Tokoh yang kita ciptakan harus mempunyai roh sehingga kita perlu menampilkan secara detail tentang watak, keinginan, ketakutan, hasrat dan lain-lainnya. Penampilan ini bisa juga untuk memberikan alasan bagi tindakan tertentu yang dilakukan oleh si tokoh. 
  4. Dalam menggambarkan gerak si tokoh, akan lebih baik jika kita melibatkan beberapa atau semua indera, seperti mata, hidung, mulut, tangan dll. Tentu saja harus disesuaikan dengan cerita yang ada. 
  5. Cerita akan lebih menarik jika digambarkan secara detail, dari pada hanya menuliskan kata sifatnya saja.

Tips Praktis Menulis Cerita Anak

Ada yang bilang kalau menulis cerita anak itu gampang-gampang susah. Tapi yang pasti menulis cerita anak berbeda dengan menulis cerita untuk orang dewasa. Baik itu dari bahasanya maupun ide cerita yang kita angkat. Berikut ini adalah tips agar kalian bisa menulis cerita anak, baik itu cerita pendek maupun novel anak: 

  1. Agar kita tidak kehilangan ide, ada baiknya kalau kita selalu membawa buku catatan. Kita tidak pernah tahu bukan kapan ide itu akan datang. Jadi kalau tiba-tiba ide datang kita bisa mencatatnya agar tidak hilang begitu saja. 
  2. Perhatikan karakter orang-orang sekitar. Catatlah karakter mereka, maka kamu akan memiliki beberapa karakter yang akan berguna dalam cerita kamu nantinya. 
  3. Buatlah catatan konflik dan penyelesaiannya. 
  4. Buat juga alur cerita yang berisi kejadian-kejadian awal, tengah hingga akhir cerita. 
  5. Ketika kamu sudah mulai menulis, buatlah dialog yang seimbang dengan narasi yang kita tulis. Yang perlu diingat adalah jangan membuat dialog yang tidak penting apalagi dialog yang mengulangi narasi.
  6. Selesaikan satu cerita, bau lanjut ke cerita lain. Jika kalian tiba-tiba menemukan ide baru ketika menulis cerita, maka tulislah ide itu dalam catatan ide terlebih dahulu. Baru nanti setelah cerita yang sedang kita tulis selesai, maka kita bisa menulis cerita lain dari ide yang kita temukan tersebut. 
  7. Membaca itu penting., karena dengan membaca maka pengetahuan kau akan semakin luas dan tulsian kamu menjadi berkualitas.