Jumat, 31 Juli 2015

Melestarikan Jamu Setiap Waktu

Jamu Gendong
Foto: Koleksi Pribadi

Pola hidup manusia kini telah berubah. Dari yang dulunya serba instan menjadi kembali ke alam. Segala hal yang berhubungan dengan hal-hal yang alami semakin disukai. Bahkan yang instan dianggap sebagai cara cepat untuk mati. 

Begitu juga dengan jamu yang sudah dikenal sebagai obat alami sejak dahulu. Sekarang orang lebih suka dengan segala hal yang berbau herbal daripada obat kimia. Jamu lebih menjadi pilihan daripada obat-obat kimia yang bisa menyembuhkan secara instan tapi dengan efek yang mengerikan. 

Perkenalanku dengan jamu sudah terjadi sejak lebih dari tiga puluh tahun yang lalu. Aku dibesarkan di Solo dengan lingkungan yang menjadikan jamu sebagai bagian dari kehidupan. Dulu waktu kecil aku sudah dikenalkan dengan kios yang menjual aneka bahan jamu yang sudah dikeringkan. 


Jamu daun jati belanda kering
Foto : Koleksi Pribadi
Setiap pergi ke pasar, eyangku selalu mampir ke kios ini. Kita tinggal bilang mau jamu untuk obat apa, maka si penjual akan dengan cekatan mengambil aneka rempah kering itu dan memasukkannya ke dalam plastik. Sambil menyerahkan plastic berisi rempah-rempah kering itu, si penjual akan memberikan tips memasak dan meminum jamu tersebut. 

Seperti misalnya, jamu itu harus direbus dengan tiga gelas air hingga tersisa satu gelas air saja. Perebuasan dilakukan di dalam kuali tanah dan diminum sehari dua kali. Jika air sudah habis maka kita bisa menambahkan lagi air dan merebusnya kembali. Penambahan air bisa dilakukan sebanyak maksimal 7 kali, setelah itu harus diganti dengan rempah-rempah yang baru. 

air jahe gula merah
Foto : Koleksi Pribadi
Setiap pagi selalu ada tukang jamu gendong yang menjajakan aneka jamu buatannya keliling kampung. Jamu yang biasa ada adalah kunyit, temulawak, temu ireng, air asem jawa yang dimasak dengan gula merah, air jahe yang juga dimasak dengan gula merah. Biasanya air asem dan air jahe ini dipakai sebagai pemanis yang diminum setelah jamu pahit. 

Pekarangan rumah juga dimanfaatkan sebagai tempat menyimpan jamu. Biasanya di pekarangan selalu saja ada tanaman obat yang sering dipakai sebagai obat keluarga. Seperti misalnya kunyit, jahe, temu lawak, temu hitam, daun katuk, daun kumis kucing, jeruk nipis dll. Tanaman obat ini akan dicabut sewaktu-waktu dan umbinya atau daunnya digunakan sebagai obat. 

Masih teringat dulu ketika aku berumur 12 tahun. Saat itu baru saja mengalami menstruasi yang pertama kali. Eyangku menyiapkan berbagai ramuan jamu kemudian menumbuknya hingga halus. Tumbukan jamu itu kemudian dibuat bulatan-bulatan kecil menyerupai pil dan dijemur hingga kering. Jamu yang berupa pil ini kemudian disimpan dalam toples yang ditutup rapat. Setiap hari aku meminum pil ini untuk menjaga agar badanku tetap wangi walaupun sudah menstruasi, begitu kata eyangku. 

Tukang Jamu gendong
Foto : Koleksi Pribadi 

Jamu juga kembali menjadi bagian hidupku ketika aku dewasa. Apalagi ketika aku hamil hingga melahirkan anak. Untuk menjaga agar perutku tetap langsing, ibuku memberikan boreh, yaitu aneka rempah yang dihaluskan dan dioleskan di perut. Bahan yang digunakan untuk boreh ini terdiri dari perasan jeruk nipis, jahe dan sedikit air kapur sirih. 

Untuk kesehatan tubuh, setiap hari selalu ada tukang jamu gendong langgananku yang setia mengantarkan jamu kunyit asem dan air jahe. Kunyit sangat bagus untuk pencernaan, apalagi buat aku yang memiliki riwayat sakit mag. Sedangkan jahe menjaga stamina dan juga bisa membantu menyetabilkan berat badan. 

Jamu memang selalu ada dalam hidupku. Dari waktu ke waktu selalu membantu menjaga kesehatanku. 

Daftar Pustaka
http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection, 
http://biofarmaka.ipb.ac.id/publication/journal

0 komentar:

Posting Komentar