Senin, 04 Februari 2013

Berburu Santapan Enak dan Murah di Solo



Sudah lama Solo terkenal dengan kulinernya yang lezat, selain mudah mendapatkan penjual makanan yang khas dan menggugah selera, harga makanan di Solo juga murah dan terjangkau oleh kantong. Sego liwet merupakan makanan khas yang sudah banyak dikenal orang, akan tetap makanan lezat di Solo bukan hanya Sego liwet yang mengenyangkan. Bagi para penikmat kuliner, Solo menyajikan beragam kuliner khas yang ringan dan tidak mengenyangkan, tentu saja masih dengan harga yang murah serta rasanya yang nikmat. 

Gempol Pleret 



Begitu melihat penampilan makanan ini di dalam mangkuk, yang terbayang adalah kesegaran yang nikmat. Makanan ini bisa digolongkan ke dalam jenis minuman, karena hampir setengah isi mangkuk berupa kuah santan yang dicampur gula dan es batu. Gempol Pleret adalah isi dari kuah santan tersebut. Gempol merupakan bulatan yang terbuat dari adonan tepung beras dan santan yang dikukus. Sedangkan pleret adalah isi yang juga terbuat dari tepung beras yang dicampur tepung ketan dan santan, biasanya dibentuk lembaran menyerupai kulit pangsit kemudian dikukus. Gempol selalu berwarna putih sedangkan pleret seringkali ditambahkan warna yang menggugah selera seperti merah muda atau coklat. Untuk menambah cita rasa, biasanya dalam penyajiannya seringkali ditambahkan irisan nangka. 



Gempol pleret biasanya dijual di pasar tradisional, namun tidak semua pasar tradisional di solo menjual kuliner yang satu ini. Di depan pintu masuk pasar Gedhe Solo, kita bisa menemukan ibu-ibu penjual gempol pleret mulai pukul 7 pagi hingga sekitar pukul 12 siang. Harga makanan ini juga relative murah, hanya dengan uang Rp 2.500 – Rp 4.000 kita sudah bisa menikmati kelezatan dan sensasi rasa yang unik dari semangkuk gempol pleret ini. Jika menginginkan makan gempol pleret dengan suasana yang nyaman dan porsi lebih besar, kita bisa datang di rumah makan Nini Thowong yang berada di daerah Widuran Solo mulai pukul 10 pagi hingga malam hari. 

Cabuk Rambak 

Namanya memang terdengar sedikit aneh, makanan ini juga terlihat sangat sederhana dalam penyajiannya. Makanan ini disajikan dalam wadah dari daun pisang yang dikenal dengan nama pincuk. Bahan utamanya adalah ketupat yang diiris tipis-tipis kemudian di siram dengan saus yang dikenal sebagai cabuk yang terbuat dari ampas minyak wijen dan kelapa muda. Sebagai pelengkap akan ditambahkan rambak atau kerupuk nasi yang juga dikenal dengan nama karak. Cara makannya pun cukup unik yaitu dengan memakai lidi yang disematkan di atas salah satu potongan ketupat. Makanan ini sudah jarang ditemui di solo. Di beberapa kampung masih ada penjual yang menjajakannya secara berkeliling. 



Jika kita ingin menikmati makanan ini kita bisa datang ke pasar gede pada pagi hari sekitar pukul 6.30 hingga siang hari pada pukul 12.00. Khusus hari minggu makanan ini bisa ditemukan di Sunday Market di kompleks stadion Manahan Solo. Harga makanan ini juga cukup murah yaitu sekitar Rp 2.000 hingga Rp 2.500 perpincuk. Porsi makanan ini memang sengaja tidak banyak dalam satu pincuknya sehingga makanan ini cocok sebagai makanan sela.

 

Sate kere 

Kere adalah sebutan untuk gelandangan, tapi tentu saja makanan ini bukan berarti sate gelandangan. Sate kere adalah sate dari tempe gembus, yaitu tempe yang dibuat dari ampas tahu. Sebagai pelengkap sajian, sate kere ini juga ditemani oleh sate dari bahan lain yaitu jeroan sapi atau pun daging sapi. Makanan ini bisa dinikmati di tempat-tempat tertentu seperti yang terkenal adalah Sate Kere Yu Rebi yang berada di belakang Sriwedari. Tempat ini buka mulai pukul 9 pagi hingga sore hari. Di daerah Widuran juga ada gerobak sate kere yang lumayan enak, namun baru buka sekitar pukul 1 siang. Jika kita melalui komplek stadion Manahan Solo, sekitar pukul 8 pagi di sini sudah tersedia gerobak sate kere yang siap melayani orang-orang yang sarapan sambil duduk di tikar dibawah pohon. 



Pembeli biasanya memilih sate di dalam gerobak kemudian penjual sate akan membakarnya di atas arang. Sate ini disajikan bersama dengan irisan lontong dan disiram dengan saus kacang. Sebagai pelengkap hidangan ini akan nikmat jika ditambah dengan irisan cabe rawit dan bawang merah serta sedikit kecap manis. Sate tempe gembus dijual dengan harga Rp 750 per tusuk, sedangkan sate jeroan dijual dengan harga antara Rp 1.500 – Rp 2.000 per tusuk. 



Selat Solo 

Makanan ini adalah hasil modifikasi dari makanan barat yaitu steak. Dalam selat solo juga terdapat daging, namun daging di sini disajikan bukan dalam bentuk utuh seperti layaknya steak. Daging yang digunakan dalam selat solo adalah daging giling yang dibungkus telur kemudian dikukus, diiris dengan ketebalan sedang. Daging giling ini disajikan bersama dengan telur rebus, irisan kentang goreng, wortel rebus, kacang polong rebus dan daun selada segar. Saus yang digunakan hampir sama dengan saus pada steak, hanya bedanya saus pada selat ini lebih encer hingga layak disebut sebagai kuah. Sebagai pelengkap di dalam sajian selat solo ini juga ditambahkan mayonaise. Harga satu porsi selat solo ini berkisar antara Rp 7.000 hingga Rp 9.000. 



Selat Solo ini termasuk hidangan yang mudah di dapat, sehingga di daerah manapaun kita berada di Solo, kita bisa mampir ke warung selat yang rata-rata mempunyai ciri khas penyajiannya sendiri. Untuk menikmati Selat Solo kita bisa datang ke warung Mbak Lies di daerah Serengan yang buka mulai pukul 9 pagi hingga sore hari. Di daerah Mangkuyudan kita juga bisa menjumpai warung selat yang enak. Atau kita juga bisa datang ke warung selat solo di dekat stasiun Balapan yang juga mulai buka sejak pagi. 




Soto Ndeso 

Dari namanya sudah bisa dipastikan kalau soto ini berada di daerah pedesaan, tepatnya di jalan raya Klodran, perbatasan antara Solo dan kabupaten Karangayar. Warung soto yang selalu dipenuhi pembeli ini sudah mulai buka sejak pukul enam pagi. Para pembeli yang datang ke warung Soto bu Par memang biasa menikmati sarapan ringan yang murah meriah. Walaupun semangkuk soto ini hanya seharga Rp 3.000 namun rasanya sangat khas dan tentu saja lezat. Apalagi jika kita datang pada hari Sabtu dan minggu, kalau sedikit agak siang datangnya, maka bisa dipastikan kalau kita harus menunggu bangku di dalam kosong terlebih dahulu. Kelezatan soto ndeso ini bisa jadi berasal dari cara memasaknya. 




Bu Par memasak soto ini di dalam kuali tanah dengan menggunakan kayu bakar. Sebagai teman makan soto ini, di meja panjang telah tersaji aneka gorengan seperti tempe goreng, bakwan, tahu goreng, kepala ayam goreng, lentho (kacang merah yang digoreng bersama tepung beras) dan tak lupa krupuk. Selain itu masih ada juga sate telur puyuh, tempe dan tahu bacem yang semua harganya sangat murah yaitu antara Rp 500 hingga Rp1.500.



2 komentar:

  1. namanya lucu2 ya mba...btw, gempol dan pleret itu, kalau di Cirebon nama kecamatan mba...he2.

    BalasHapus
  2. Hehehhehee... makasih infonya , jadi tahu kalau nama makanan di solo jadi nama kecamatan di Cirebon :)

    BalasHapus